24 Maret 2011

bisa karena terbiasa. terbiasa karena terpaksa :)

@ Terbiasa karena terpaksa. RT @: Kita bisa karena terbiasa. :)



Bermula dari tweet diatas, maka menemukan ide untuk berceloteh kembali di blog *ihiiiikkkk*
Kita bisa karena terbiasa, dan kita terbiasa karena terpaksa, menurut saya sih seperti itu.
sesuatu yang kita lakukan karena terbiasa, biasanya dilakukan karena terpaksa :) *itu saya lohhh*
Salah satu contohnya yaaa, yaa sekarang ini derita mahasiswa tingkat akhir yang ditingal teman-temannya *iyee gw belum lulus* *mendadak sewot* hahaha...SKRIPSI.
Sesungguhnya yaa, ngerjain skripsi itu karena terpaksa, terpaksa demi gelar! terpaksa demi satu langkah lagi bebas dari predikat mahasiswa S1.. Begitu sudara-sudara sebangsa dan setanah air..
Karena keterpaksaan itulah yang menjadi sebuah kebiasaan tersendiri buat saya, pemirsah..
Kebiasaan ngejar-ngejar dosen, kebiasaan ngerjain skripsi, kebiasaan bawa laptop kemana-kemana, kebiasaan dimanapun dan kapan pun ya kerjain skripsi, kebiasaan baca buku (walau ga pernah ngerti), kebiasaan stress, kebiasaan kayang, dan tentunya kebiasaan-kebiasaan lainnya.

Emmmm dannnn contoh lainnya adalah *jreng-jrennggg* *apa sihhh pake jreng-jreng*
Saat kita (harus) terbiasa dengan keterpaksaan dalam hubungan.
Eeeeeemmmmm maksudnya gini loh apa yaaa engggg *ngeselin banget dah yaa*
Maksudnya, kita harus terbiasa dengan 'masa lalu' pasangan kita yang (mungkin) masih menggelitik kehidupan pasangan kita *alaahhh menggelitik* *ga ada bahasa lain apa, ya selain menggelitik?*

APAAAAA??? lo bilang terbiasa?? woyyy woyyyyy *anggap saja sinteron* *zoom in zoom out*naon*

Iyaaa, saya ngertiiiii pastii susahkan untuk terbiasa, pasti jelous, pasti kesel, pasti emosi, pasti cemburu menguras bak pastiiii...
Tapi mau ga mau kan, kita harus menerima sepaketnya pasangan kita. Dia dan masa lalunya.
Nah, keterpaksaan itu lah yang lama-lama harus menjadi sebuah keterbiasaan buat kita. Kenapa?
Karena karena ya karena :D
Karena semakin kita menghindari 'si keterpaksaan' itu semakin sering kita berurusan dengan masa lalunya. saat kita sudah legowo berusaha terbiasa, seenggaknya sakitnya, keselnya, betenya, ga separah saat kita ga terbiasa.

Dengan TERPAKSA sebenarnya kita belajar TERBIASA

Dengan keterpaksaan, saya belajar lebih banyak tentang bagaimana menghargai sesuatu :)
Eh, tapi kalo terpaksa dan terbiasa karena mengalah, takut, dan apapun itu saya sih sarankan untuk untuk untuk, ya untuk berubah deh pemirsahhhh.. Ga baik kalo terbiasa karena terpaksa karena hal yang negatif :)

Sekian pemirsah .
Sampai jumpa di kesempatan lainnya dengan cerita lainnya.
Tra la la Tri li li li *silangkan tangan*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar